Senin, 14 November 2011

Tungku Kerinduan

Ku nyalakan tungku
tuk merebus sajak-sajak ku dulu
mendidihkan luka yang menganga
menebarkan uap tetesan air mata

Lantas,,
ku putuskan pergi : sebelum api melahap sisa sepi

Sedangkan kau masih termangu
berfantasi kala cuaca pilu
seolah melenyapkan lirih kerinduan
pada kelam yang menghujam

Orang Malam karya Soni Farid Maulana

Soni Farid Maulana adalah penyair dan juga wartawan. Ia banyak menulis puisi dan cerpen sosial yang oleh beberapa pengamat sastra dianggap memiliki kecenderungan memandang situasi sosial-politik di negeri ini secara hitam putih. Melalui salah satu karyanya dalam cerpen “Orang Malam”, yang merupakan satu dari sepuluh cerpen pilihan, kita akan menemukan dunia realis dan surealis berbaur, mengungkap cinta, kemanusiaan, kritik sosial, politik, hingga kritik terhadap karya sastra dan budaya kita dengan moralitas yang cukup kental. Semua itu diungkapnya dengan kekuatan bahasa penyair yang ritmis dan liris, sepertinya kadang ia lupa bahwa tugasnya adalah bercerita.  Nilai – nilai kemanusiaan disajikannya dengan amat memikat, yang dipaparkannya dengan gaya penceritaan yang amat sederhana, tidak rumit sehingga menimbulkan suasana tertentu di hati pembaca cerpen-cerpennya. Kita juga akan menemukan bagaimana dunia kepenyairan dan jurnalistik dalam cerpennya itu berbaur, memberi segi yang lain dari nilai yang berbeda. Selain itu, yang menarik dari cerpen yang ditulisnya ini, justru ketika ia bermain antara “waktu” dan “tak berwaktu”. Ia mengajak pembaca menyadari kehidupan ini tidak biasa-biasa saja, ada sesuatu yang bersembunyi dibaliknya. Sesuatu yang ganas walau lembut, yang bisa mencengkram kehidupan dalam jurang yang dalam. Sesuatu itu adalah kegelapan. Pendeknya, kehidupan adalah kegelapan.
Ya, itulah yang akan kita temukan dalam cerpen Soni Farid Maulana. Hampir semua tokoh yang dihidupkannya dalam cerita pendek yang ditulisnya ini berada dalam kisah kegelapan, baik karena lanskap kisah yang diceritakan pada saat malam atau karena ada situasi kehidupan yang penuh kegelisahan dan ketidakjelasan. Sehingga, cerpen ini sangat menarik untuk di apresiasi.
Berdasarkan klasifikasi alur, cerpen “Orang Malam” tergolong pada jenis alur kekecewaan (disillusionment plot), dimana pelaku utama kehilangan idamannya, dan jatuh ke jurang keputusasaan.
Kutipannya :
“Di kamar ini aku benar-benar sendiri, terkucil dari dunia ramai. Semua ini bermula dari kematian Elena. Ya, kematian yang tidak pernah terduga, bahwa ia harus pergi, meninggalkan dunia dengan cara yang amat menyakitkan, di bunuh orang dalam kamar kontrakannya, di jualan Soka. Hingga kini kasus pembunuhan yang menggemparkan itu belum bisa di ungkap oleh pihak yang berwajib.
Elena di bunuh entah oleh siapa. Batok kepalanya retak sudah di pukul oleh beda tumpul, entah oleh batu entah oleh palu. Tempurung payudaranya rusak berat, penuh dengan sayatan kecil, semacam jejak silet yang tajam menurih daging sapi yang segar, yang darinya keluar cairan semacam darah. Pihak yang berwajib menduga, sebelum dibunuh, ia diperkosa terlebih dahulu. Adapun tentang ada batok kepalanya yang retak, tempurung payudara yang rusak berat, dan vaginanya yang robek diperkosa oleh orang biadab intu, benar-benar membuat aku terpukul, membenihkan rasa marah yang berkobar-kobar dalam dadaku.
Marah? Marah pada siapa? Pada si pembunuh? Kutukan, berbagai jenis kutukan: jelas sudah aku alamtkan kepada si pembunuh yang entah siapa namanya. Kini yang terasa hanya raas sakit di dada,  pedih, perih, seperti ribuan sembilu yang disayatkan secara paksa ke hulu hatiku.
Mengapa peristiwa yang sedikit pun tak pernah terbayangkan dalam benakku itu harus menimpa Elena? Ya, Elena, yang dalam beberapa bulan terakhir ini mampu membangkitkan gairah hidupku yang nyaris beku di kulkas kesepian. Kini aku benar-benar merasa sunyi seperti sepangkas bunga bakung yang di buang orang ke dalam bak sampah yang sesak oleh bangkai tikus, yang dagingnya mulai mencair, dengan aroma yang khas, yang hanya disukai oleh lalat dan belatung saja, dan tidak oleh manusia.”
Terlihat jelas dari kutipan cerpen tersebut, alur cerpen memberi efek terhadap pembaca dan terhadap cerpen itu sendiri. Bermula dari  kematian Elena, orang yang amat ia sayangi. Di bunuh dengan tidak wajar dan di perkosa, entah oleh siapa. Hingga kasus pembunuhan tersebut itu belum bisa diungkap oleh pihak yang berwajib.
Penulis berhasil membuat pembaca diliputi rasa simpati dan kekecewaan yang mendalam. Kesedihan dan kemarahan yang tak mampu diungkapkan campur aduk menjadi satu. Dari awal sampai akhir cerita pergolakkan batin sangat terasa. Ketika ia mengenang masa lalu yang indah bersama dalam cinta, dan ketika ia harus menghadapi kenyataan yang begitu menyakitkan, di tinggal oleh orang yang ia sayangi, di bunuh dengan tidak wajar.
Dan dari alur tersebut cerpen dapat dikatakan sebagai cerpen liris atau bersifat liris karena menguras emosional, penuh dengan perasaan.
          Dalam cerpen ini hanya terdapat dua tokoh, yaitu tokoh aku dan Elena. Tokoh aku, yakni sebagai tokoh utama yang senantiasa ada dalam setiap peristiwa di dalam cerita. Tokoh aku adalah seorang penulis dan pemain teater yang hebat. Lewat teater ia dapat menemukan pertarungan nilai-nilai dengan amat mengasyikkan, sekaligus menguji keutuhan diri sebagai manusia. Tokoh aku merupakan tipe orang penyayang, memiliki rasa cinta yang kuat, selalu mengingat masa lalu, gugup, dan ketika ia mendapatkan suatu cobaan, ia benar-benar rapuh dan menyendiri.
Kutipannya :
            “Kesepakatan kami menjalin hubungan seintim itu, justru seusai kami sukses memainkan lakon Orang malam dalam versi ketujuh yang naskahnya memang aku tulis sendiri dengan sutradara Dominic Naipul, sahabatku dari Paris, Prancis, yang tengah berlibur di negeriku dengan waktu yang yang cukup lama. Dan Dominic adalah salah seorang sutradara teater muda usia di negerinya, yang kemampuan dan bakatnya tidak diragukan lagi. Ia datang ke negeri ini, antara lain igin memperdalam teater tradisional, entah itu yang ada di Jawa maupun Bali.
            ”Hanya di dalam teaterlah aku menemukan pertarungan nilai-nilai dengan amat mengasyikkan. Lewat teaterlah aku sering menguji keutuhan diriku sebagai manusia,” ujarnya, dalam sebuah kesempatan. Dan apa yang di ucapkannya itu, tidak hanya di dengar oleh diriku sendiri, tetapi juga didengar oleh Elena”
“Adzan shubuh aku dengar begitu nyaring , menyelusup dari celah-celah jendela. Elena menghilang dari pandangan mataku. Di kamar ini aku benar-benar sendiri, tubuhku yang lelah, dan jiwaku yang capek; terdampar di atas ranjang yang spreinya kusut seperti wajahku. Sesekali, dari balik jendela kamarku, aku mendengar pula langkah orang yang bergegas entah pergi kemana.
waktu seperti kura-kura
merayap dalam alir darahku.
antara yang fana dan yang abadi seberapa detik batasnya?

seberapa detik batasnya?
dan kini apa yang tengah
aku hadapi saat ini
aku benar-benar sendiri
di kamar ini,

subuh sedingin es
dalam kulkas
sedingin batu-batu
di dasar kali
            Aku pejamkan mataku. Betapa ingin sesaat aja aku terbebas dari pengalam buruk yang demikian hitam meninpa hidupku. Yang terbayang adalah senyumnya, saat elena menghambur ke dadaku, ketika ia tidak percaya pada kemampuannya dalam menghidupkan peranyang telah dimainkannya tadi di atas panggung cukup berhasil, memukau banyak orang dalam lain kesempatan. Begitu erat ia memeluk tubuhku, yang terus terang ketika ia melakukan hal itu, aku jadi gugup dibuatnya. Ini pelukan pertama di luar pertunjukan yang aku yakini didasari rasa cinta. Tentu saja getaran pelukan semacam itu terulang lagi dalam pelukan-pelukan lainnya dalam berbagai kesempatan yang memungkinkan kami semakin mengenal, tubuh, pikiran dan juga diri kami masing-masing.”
Elena sebagai tokoh tambahan dalam cerpen ini. Wajahnya yang cantik semakin menampilkan daya pesona yang luar biasa. Gaya hidupnya sangat sederhana, tutur katanya lembut, sebagai pemain teater, kemampuannya dalam menghidupkan peran yang tengah dimainkannya itu, terbilang hebat dalam bermain teater, padahal ia baru pertama kali main dalam teater yang minta perhatian khusus dari para pemainnya untuk mengembangkan karakter para tokohnya setepat mungkin di atas pentas, ia juga memiliki rasa cinta yang kuat, penyayang, mau mencoba hal yang baru, tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ada, dan memiliki rasa percaya diri yang kuat.
Kutipannya :
            “Jadi Akang mempercayai saya untuk memerankan tokoh Dirah dalam sebuah lakon pendek yang Akang tulis tempo hari? Saya memang suka teater, tapi belum pernah main teater. Kalau Akang memang percaya kepada saya, bahwa saya mampu menghidupkan peran tersebut, ya, apa salahnya saya coba?? Tutur Elena dalam sebuah kesempatan, di Sekertariat Teater Karang Kembang, di jalan Bungur.
            Wajahnya yang cantik itu semakin menampilkan daya pesona yang luar biasa, setelah aku ketahui dengan pasti bahwa gaya hidupnya sangat sederhana, tutur katanya lembut, selembut usapan tangannya yang pernah berkemah di balik bajuku”
            Sedangkan Kimung dan Dirah termasuk ke dalam tokoh tambahan yang terdapat dalam unsur drama pada cerpen “Orang Malam”. Kimung mempunyai watak tokoh yang sering menduga-duga, gengsi, sok tahu, akan tetapi sering berkomentar pedas  tentang carut marut negeri ini,yang di kaitkan dengan kehidupan yang ia jalani.
Kutipannya:
KIMUNG:
“Memangnya aku tertarik padamu?
O,  jangan mimpi.
Ah, ah, ah. Aku tahu kini., kau pasti wanita kesepian, bukan?
Sudahlah siapa pu engkau , ada baiknya kau mendekat kemari .
Kau tidak akam marah bukan , jika aku bertanya padamu, apa yang menyebabkan engkau malam-malam seperti ini
Datang ke tempat ini sendirian?
Apakah suamimu tidak akan mencarimu?
Aku tahu jawabannya, kau pasti melarikan diri karena suami mu kawin lagi dengan orang lain?”

KIMUNG :
“Dengarkan aku bicara.
Negeri ini telah membuat orang kehilangan akal sehatnya. Tanahku dirampas orang-orang berhati babi hutan.”
“….kalian hanya berani menangkap seorang perempuan
yang tidak menginginkan negaranya hancur berantakan
kerena para penguasanya tidak lagi memperhatikan nasib rakyatnya sendiri.
Kalian benar-benar tidak tahu malu. Lihat, para pencuri kelas tinggi, yang selalu berkata-kata atas nama rakyat itu
Kalian biarkan begitu saja bebas berkeliaran. O, negeri apakah ini, kecoa dan tikus busuk hanya dialamatkan pada orang-orang yang berpikiran kritis, yang tidak menginginkan kelaparan dan kemiskinan terjadi hampir di seluruh pelosok negeri ini.”
           
            Sedangkan Dirah mempunyai watak tokoh, yakni seorang yang cukup keras, cuek,  namun mengalami pengalaman yang pahit.
Di lihat dari segi kualitas tokohnya, cerpen “Orang Malam” termasuk ke dalam tokoh sederhana atau tokoh yang berwatak datar (the simple or flat characters), dimana tokoh yang kurang mewakili personalitas manusia secara utuh, hanya ditonjolkan satu sisi kehidupan saja.
Penulis hanya memaparkan bagaimana tokoh aku yang hidup di dunia teater dengan keahlian yang ia miliki dan bagaimana akhir kisah cintanya dengan Elena. Sehingga memang kurang mewakili personalitas manusia secara utuh, karena hanya menonjolkan dari satu sisi kehidupan saja.
Kutipannya:
”Hanya di dalam teaterlah aku menemukan pertarungan nilai-nilai dengan amat mengasyikkan. Lewat teaterlah aku sering menguji keutuhan diriku sebagai manusia,” ujarnya, dalam sebuah kesempatan.”
“Kalau hidup yang kita jalani ini memang seperti dongeng, lantas peran semacam apakah yang tengah kita mainkan selama ini? Kalau kehidupan ini adalah sebuah panggung teater yang besar, lantas lakon semacam apakah yang tengah Dia tulis untuk kita saat ini? aku sangat tidak mengharap bahwa cinta kita hanya kekal dalam lipatan kenangan,” ujarnya pada suatu hari, yang diucapkannya di kamar ini.
Waktu seperti kura-kura
Merayap dalam alir darahku
Antara yang fana dan yang abadi
Seberapa detik batasnya?
“Elena, mengapa maut memisahkan kita?”

Dari segi peran dalam pengembangan plot, tokoh dalam cerpen ini merupakan tokoh protagonis karena menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan kita, harapan-harapan kita sebagai pembaca.
Kutipannya :
“Pihak yang berwajib menduga, sebelum dibunuh, ia diperkosa terlebih dahulu. Adapun tentang ada batok kepalanya yang retak, tempurung payudara yang rusak berat, dan vaginanya yang robek diperkosa oleh orang biadab intu, benar-benar membuat aku terpukul, membenihkan rasa marah yang berkobar-kobar dalam dadaku.
Marah? Marah pada siapa? Pada si pembunuh? Kutukan, berbagai jenis kutukan: jelas sudah aku alamatkan kepada si pembunuh yang entah siapa namanya. Kini yang terasa hanya rasa sakit di dada, pedih, perih, seperti ribuan sembilu yang disayatkan secara paksa ke hulu hatiku.
Kutipan di atas mengambarkan bahwa ia berusaha kuat dalam menghadapi segala cobaan, ia juga berhasil menahan amarahnya. Hal tersebut sesuai dengan pandangan kita sebagai pembaca, dan apabila kita diposisikan menjadi tokoh aku,  kehilangan orang yang amat kita sayangi, terutama dengan cara tidak wajar, kita akan menyerahkan segala sesuatunya kepada pihak berwajib. Walaupun kasusnya belum bisa terungkap, kita harus tetap berikhtiar. Memang tidak dapat di pungkiri rasa terpukul dan marah membenih dalam dada. Namun kita harus berpikir secara dingin, sesakit apapun itu jangan melakukan hal yang konyol untuk mengakhiri hidup dengn cara bunuh diri. Oleh karena itu, tokoh aku merupakan tokoh protagonis.
Berdasarkan kriteria berkembang atau tidaknya perwatakan tokoh, tokoh dalam cerpen ini merupakan tokoh berkembang dimana tokoh cerita yang mengalami perubahan/perkembangan peristiwa dan plot yang dikisahkan.
Kutipan (sebelum adanya cobaan yang menimpa tokoh aku) :
“…kami sukses memainkan lakon Orang malam dalam versi ketujuh yang naskahnya memang aku tulis sendiri dengan sutradara Dominic Naipul, sahabatku dari Paris, Prancis, yang tengah berlibur di negeriku dengan waktu yang yang cukup lama..”
”Hanya di dalam teaterlah aku menemukan pertarungan nilai-nilai dengan amat mengasyikkan. Lewat teaterlah aku sering menguji keutuhan diriku sebagai manusia,” ujarnya, dalam sebuah kesempatan.”
Kutipan (setelah adanya cobaan yang menimpa tokoh aku) :
            “Mengapa peristiwa yang sedikit pun tak pernah terbayangkan dalam benakku itu harus menimpa Elena? Ya, Elena yang dalam beberapa bulan terakhir mampu membangkitkan gairah hidupku yang nyaris beku di kulkas kesepian. Kini aku benar-benar merasa sunyi seperti sepangkas bunga bakung yang di buang orang ke dalam bak sampah yang sesak oleh bangkai tikus, yang dagingnya mulai mencair, dengan aroma yang khas, yang hanya disukai oleh lalat dan belatung saja, dan tidak oleh manusia.”
Waktu seperti kura-kura
Merayap dalam alir darahku
Anatara yang fana dan yang abadi
Seberapa detik batasnya?
“Elena, mengapa maut memisahkan kita?”
Kita bisa melihat perubahan/perwatakan watak tokoh aku. Baik sebelum maupun setelah cobaan menimpanya. Tokoh aku hidup di dunia teater. Ia begitu semangat dalam berkarya, baik menulis naskah maupun memainkan lakon dalam teater, hidupnya penuh dengan rasa cinta. Namun ketika ia kehilangan Elena, oarang yang ia sayangi, gairah hidupnya nyaris beku, di rundung duka dan gemar menyendiri.
Kemudian dalam metode penyajian watak, cerpen “Orang Malam” menggunakan metode dramatik. Metode dramatik adalah metode penokohan yang dipergunakan pencerita dengan membiarkan para tokohnya untuk menyatakan diri mereka sendiri lewat kata-kata, dan perbuatan mereka sendiri, misalnya lewat dialog, jalan pikiran tokoh, perasaan tokoh, perbuatan, sikap tokoh, lukisan fisik, dan sebagainya.
Kutipan (melalui lukisan fisik) :
“Wajahnya yang cantik itu semakin menampilkan daya pesona yang luar biasa, setelah aku ketahui dengan pasti bahwa gaya hidupnya sangat sederhana, tutur katanya lembut, selembut usapan tangannya yang pernah berkemah di balik bajuku”
Kutipan (melalui perasaan tokoh) :
“…benar-benar membuat aku terpukul, membenihkan rasa marah yang berkobar-kobar dalam dadaku.
Marah? Marah pada siapa? Pada si pembunuh? Kutukan, berbagai jenis kutukan: jelas sudah aku alamtkan kepada si pembunuh yang entah siapa namanya. Kini yang terasa hanya raas sakit di dada,  pedih, perih, seperti ribuan sembilu yang disayatkan secara paksa ke hulu hatiku”
 Kutipan (lewat dialog) :
 KIMUNG:
Suara, suara itu-seperti langkah kaki
menginjak guguran dedaunan.
Jika engkau yag datang
Aku sambut dengan mautku
yang cempaka.

DIRAH:
Tidakkah kau bosan berkata demikian?
Betapa sering aku mendengar kau berkata seperti itu-seakan-akan
tidak ada lagi sesuatu yang pantas kau kerjakan? Alangkah cengengnya engkau seperti orng baru putus cinta?

Terdapat tiga kategori latar dalam cerpen “Orang Malam”.
1.      Latar tempat, diantaranya : kamar, kamar kontrakan, di Jalan Soka, Sekretariat Teater Karang Kembang, di Jalan Bungur, taman,  panggung pertunjukan teater, pusat kebudayaan asing, di Jakarta.
2.      Latar waktu, diantaranya : malam, pukul 01.33 WIB, sore, ratusan tahun, suatu hari
3.      Latar suasana : hujan, kemarau, gerimis, ramai, sunyi, sepi, gugup, kaget,marah, terpukul, hening

 “Malam sedingin batu-batu di dasar kali. Hujan yang turun sejak pagi, baru saja reda. Dari balik kaca jendela, bayang-bayang kelam terhampar seluas mata memandang. Tak ada siapa-siapa di situ, selain warna pepohonan yang hitam pekat. Sesekali bergerak dimainkan angin yang berhembus dengan amat kencangnya. Saat, kantuk belum juga datang menyergap diriku, padahal jam dinding sudah menunjuk pukul 01.33 WIB. Di kamar ini aku benar-benar sendiri, terkucil dari dunia ramai.”
  Mengenai tema yang terkandung dalam cerpen “Orang Malam”, sebelumnya Nashrudin Hoja pernah berseloroh, “Sebenarnya bulan lebih dibutuhkan, untuk menerangi malam yang gelap. Sedang matahari tak dibutuhkan, karena siang sudah terang.” Ini seloroh yang bisa jadi menggelikan, terutama bila dalam pikiran kita ada keyakinan bahwa terangnya siang disebabkan oleh kehadiran matahari; tanpa matahari siang sama gelapnya dengan malam. Bila pernyataan ini benar, bahwa “Tanpa adanya matahari, siang sama gelapnya dengan malam,” kita dapat menyatakan bahwa malam atau kegelapan merupakan hal terdasar dalam kehidupan ini. Dua puluh empat jam adalah malam, baru menjadi siang ketika matahari hadir memberikan sinar dan menyulap malam menjadi terang benderang, menjadi siang.
            Benarkah dasar dari kehidupan ini adalah kegelapan? Bisa jadi iya, terutama bila kita mengaitkannya dengan situasi ruang publik yang kita alami. Dan Soni sebagai penulis memang mengajak kita untuk memaknai situasi carut marut negeri ini dengan satu kata: (penuh) kegelapan dalam cerpen “Orang Malam”
Kutipannya :
“Kalian hanya berani
menangkap seorang perempuan
yang tidak menginginkan negaranya
hancur berantakan
kerena para penguasanya
tidak lagi memperhatikan
nasib rakyatnya sendiri.
Kalian benar-benar tidak tahu malu.
Lihat, para pencuri kelas tinggi,
yang selalu berkata-kata atas nama rakyat itu
kalian biarkan begitu saja bebas berkeliaran.
O, negeri apakah ini, kecoa dan tikus busuk
hanya dialamatkan pada orang-orang
yang berpikiran kritis,
yang tidak menginginkan kelaparan
dan kemiskinan terjadi hampr
di seluruh pelosok negeri ini”

            Penulis memang tidak sedang membicarakan kegelapan sebagai sesuatu yang abstrak. Ia membicarakan kenyataan kehidupan negeri ini yang penuh kegelapan. Pilihan untuk mengusung metafora kegelapan ini membuat penulis memilih beberapa peristiwa politik sebagai latar belakang (tema) cerpennya. Ia menawarkan sisi lain dari beberapa peristiwa politik yang cukup jarang disadari orang banyak.
 Selain tema politik, tema percintaan antara tokoh aku dan Elena begitu terasa.
Kutipannya :
“Kang”, katanya saat itu, dengan mata terpejam, seakan menolak cahaya, ketika kedua tanganku mendekap erat tubuhnya yang terbakar oleh gairah cinta yang demikian dahsyat melanda ruhnya. Dan apa yang dikatakannya itu terngiang lagi dalam penengaranku, padahal kalimat tersebut diucapkannya setahun lalu. Sejak itulah, hubunganku dengan Elena kian akrab, hingga pada suatu hari, di sebuah tempat yang tanggal, hari, dan bulannya aku sudah lupa, kami sepakat bahwa hubungan yang kami jalin ini memuncak di jenjang perkawinan, membangun sebuah dunia yang lain lagi dari apa yang selam ini kami bangun di atas pentas.”

Cerpen “Orang Malam” termasuk ke dalam tipe cerpen kemanusiaan dengan di bumbui cerita percintaan.
Kutipannya :
KIMUNG dan DIRAH :
(keduanya salng mendekat lalu berpelukan)

“Kita sama-sama tau dan besar dalam penjara .
Kita lahir sebagai dongengan.
O,maut yang bengis jarring kelam apa lagikah yang kelak kau jeratkan
Pada tubuh tua ini.
Adakah kelak setangkai mawar bermekaran di tubuh kami?

“…. Itulah kali pertama kami berpelukan, begitu erat, seakan tidak mau saling melepaskan.”

Nilai sastra begitu melekat dalam struktur cerpen “Orang Malam”. Kita dapat menemukan dunia realis dan surealis berbaur mengungkap cinta, kemanusiaan, kritik sosial, politik, hingga kritik terhadap karya sastra dan budaya. Semua itu diungkapkan dengan kekuatan bahasa penyair yang ritmis dan liris.
Kutipannya :
waktu seperti kura-kura
merayap dalam alir darahku.
antara yang fana dan yang abadi seberapa detik batasnya?

seberapa detik batasnya?
dan kini apa yang tengah
aku hadapi saat ini
aku benar-benar sendiri
di kamar ini,

subuh sedingin es
dalam kulkas
sedingin batu-batu
di dasar kali
“Elena, mengapa maut memisahkan kita?”

Kemudian, penulis mengolah sekaligus memadukan unsur-unsur cerita pendek dengan unsur-unsur naskah drama pendeknya.
Kutipannya :
 KIMUNG:
(Terkejut. Sesaat ia tatap wanita yang kini berdiri di hadapannya itu. Ia tak habis mengerti mengapa dalam malamsekelam ini ada seorang wanita berani-beraninya datang ke tempat ini)
Kamu siapa?
Rasanya baru kali ini aku didatangi
oleh seorang wanita.
Biasanya pada malam-malam seperti ini
hanya bangku-bangku taman yang bisu
yang menemaniku dengan seluruh
kesepian dan kesunyian alam raya.
  
DIRAH:
Aku bukan siapa-siapa.
Boleh jadi aku pikiran buruk yang datang
Dari dasar kegelapan.
Boleh jadi pula-aku bukan siapa-siapa
Bagi dirimu.

Selain itu, terdapat nilai–nilai kemanusiaan dalam cerpen “Orang Malam” yang disajikan dengan amat memikat dengan gaya penceritaan yang amat sederhana. Soni menulis, “ Tapi kami ingin jiwa kami tidak hangus oleh sebuah pengalaman buruk.”
Pada saat ruang publik mendesak terangnya kemanusiaan, kita tentu akan mencari jalan keluar. Berdiam saja di tengah desakan mematikan adalah hal yang konyol. Luapan membutuhkan kanal, begitu pun kerinduan akan cahaya membutuhkan celah walaupun hanya sedikit. Persis seperti biji kacang hijau yang disimpan di atas kapas basah, di dalam tabung, dan diletakakan di dalam kamar gelap; biji itu akan menghandirkan batang tauge yang menjalar memburu cahaya. Cahaya yang diburu batang tauge itu mungkin hanya selarik dan sesekali masuk ke dalam  kamar, itu sudah cukup untuk memberi alasan bahwa hidup harus diteruskan. Simpulannya ialah bahwa hidup di tengah kegelapan bisa diteruskan bila masih ada harapan bahwa cahaya tetap ada, atau bila kita punya keyakinan bahwa kegelapan itu dapat dilawan dengan cahaya buatan sendiri. Bukankah pada saat malam tiba, kita sudah sedemikian cerdas menghadapinya dengan memasang lampu atau sedia senter sebelum terkantuk?
            Inilah kehebatan manusia. Ketika alam hanya menyajikan kegelapan, manusia tak pasrah menyerah: ia menciptakan pelits. Ketika ruang publik tak menjanjikan kebebasan kemanusiaan, manusia mencari dengan caranya yang khas. Situasi pencarian cahaya kebebasan ini dapat di temukan pada banyak cerpen Soni.  Pada cerpen “Orang Malam,” seorang pemuda diceritakan memiliki hobi mencari hiburan di kesunyian. Ini aneh, “Ya, hanya manusia anehlah di zaman yang serba cepat berubah ini yang menyukai tempat-tempat yang demikian !” kebiasaan ini barangkali bisa merujuk pada seorang darwis yang melarikan diri dari kenyataan duniawi, yang mencari kebahagiaan dengan cara tak lazim.
            Sebagai fungsi rekreatif cerpen “Orang Malam” menyediakan, menawarkan, menyuguhkan, dan menghidangkan hiburan-hiburan secara batiniah dan sukmawi kepada pengapresiasi dapat berbentuk keindahan, keelokan/estetis sastra, kehumoran, kelucuan, kekonyolan, kekontrasan, keintensifan, kekhususan, atau sindiran.
Kutipan 1 :
Kalian hanya berani
menangkap seorang perempuan
yang tidak menginginkan negaranya
hancur berantakan
kerena para penguasanya
tidak lagi memperhatikan
nasib rakyatnya sendiri.
Kalian benar-benar tidak tahu malu.
Lihat, para pencuri kelas tinggi,
yang selalu berkata-kata atas nama rakyat itu
kalian biarkan begitu saja bebas berkeliaran.
O, negeri apakah ini, kecoa dan tikus busuk
hanya dialamatkan pada orang-orang
yang berpikiran kritis,
yang tidak menginginkan kelaparan
dan kemiskinan terjadi hampr
di seluruh pelosok negeri ini”
Kutipan 2 :
“waktu seperti endapan candu
lolong anjing terdengar nyaring
seperti kesedihan yang menyeruak dari kedalaman hatiku.

antara yang fana dan
 yang abadi
seberapa detik
batasnya?”

Kutipan 1 cerpen di atas menghidangkan hiburan batiniah kepada pengapresiasi berbentuk sindiran terhadap situasi carut marut negeri ini. Sedangkan kutipan ke-2 menghidangkan hiburan batiniah kepada pengapresiasi berbentuk keindahan, keelokan/estetis sastra dalam kepenulisannya.
Dalam cerpen “Orang Malam” terdapat pengalaman humanistik, yakni pengalaman yang berisi dan bermuatan nilai-nilai kemanusiaan, menjungjung harkat, dan martabat manusia, menggambarkan situasi dan kondisi kemanusiaan (kondisi tragis, dramatis, sinis, ironis, humoristis, riang, murung, dan penasaran)
Kutipannya :
“Elena di bunuh entah oleh siapa. Batok kepalanya retak sudah di pukul oleh beda tumpul, entah oleh batu entah oleh palu. Tempurung payudaranya rusak berat, penuh dengan sayatan kecil, semacam jejak silet yang tajam menurih daging sapi yang segar, yang darinya keluar cairan semacam darah. Pihak yang berwajib menduga, sebelum dibunuh, ia diperkosa terlebih dahulu. Adapun tentang ada batok kepalanya yang retak, tempurung payudara yang rusak berat, dan vaginanya yang robek diperkosa oleh orang biadab intu, benar-benar membuat aku terpukul, membenihkan rasa marah yang berkobar-kobar dalam dadaku.”