Soni
Farid Maulana adalah penyair dan juga wartawan. Ia banyak menulis puisi dan
cerpen sosial yang oleh beberapa pengamat sastra dianggap memiliki
kecenderungan memandang situasi sosial-politik di negeri ini secara hitam
putih. Melalui salah satu karyanya dalam cerpen “Orang Malam”, yang merupakan
satu dari sepuluh cerpen pilihan, kita akan menemukan dunia realis dan surealis
berbaur, mengungkap cinta, kemanusiaan, kritik sosial, politik, hingga kritik
terhadap karya sastra dan budaya kita dengan moralitas yang cukup kental. Semua
itu diungkapnya dengan kekuatan bahasa penyair yang ritmis dan liris,
sepertinya kadang ia lupa bahwa tugasnya adalah bercerita. Nilai – nilai kemanusiaan disajikannya dengan
amat memikat, yang dipaparkannya dengan gaya penceritaan yang amat sederhana,
tidak rumit sehingga menimbulkan suasana tertentu di hati pembaca
cerpen-cerpennya. Kita juga akan menemukan bagaimana dunia kepenyairan dan
jurnalistik dalam cerpennya itu berbaur, memberi segi yang lain dari nilai yang
berbeda. Selain itu, yang menarik dari cerpen yang ditulisnya ini, justru
ketika ia bermain antara “waktu” dan “tak berwaktu”. Ia mengajak pembaca
menyadari kehidupan ini tidak biasa-biasa saja, ada sesuatu yang bersembunyi
dibaliknya. Sesuatu yang ganas walau lembut, yang bisa mencengkram kehidupan
dalam jurang yang dalam. Sesuatu itu adalah kegelapan. Pendeknya, kehidupan
adalah kegelapan.
Ya,
itulah yang akan kita temukan dalam cerpen Soni Farid Maulana. Hampir semua
tokoh yang dihidupkannya dalam cerita pendek yang ditulisnya ini berada dalam
kisah kegelapan, baik karena lanskap kisah yang diceritakan pada saat malam
atau karena ada situasi kehidupan yang penuh kegelisahan dan ketidakjelasan.
Sehingga, cerpen ini sangat menarik untuk di apresiasi.
Berdasarkan
klasifikasi alur, cerpen “Orang Malam” tergolong pada jenis alur kekecewaan (disillusionment
plot), dimana pelaku utama kehilangan idamannya, dan jatuh ke jurang
keputusasaan.
Kutipannya :
“Di
kamar ini aku benar-benar sendiri, terkucil dari dunia ramai. Semua ini bermula
dari kematian Elena. Ya, kematian yang tidak pernah terduga, bahwa ia harus
pergi, meninggalkan dunia dengan cara yang amat menyakitkan, di bunuh orang
dalam kamar kontrakannya, di jualan Soka. Hingga kini kasus pembunuhan yang
menggemparkan itu belum bisa di ungkap oleh pihak yang berwajib.
Elena
di bunuh entah oleh siapa. Batok kepalanya retak sudah di pukul oleh beda
tumpul, entah oleh batu entah oleh palu. Tempurung payudaranya rusak berat,
penuh dengan sayatan kecil, semacam jejak silet yang tajam menurih daging sapi
yang segar, yang darinya keluar cairan semacam darah. Pihak yang berwajib
menduga, sebelum dibunuh, ia diperkosa terlebih dahulu. Adapun tentang ada
batok kepalanya yang retak, tempurung payudara yang rusak berat, dan vaginanya
yang robek diperkosa oleh orang biadab intu, benar-benar membuat aku terpukul,
membenihkan rasa marah yang berkobar-kobar dalam dadaku.
Marah?
Marah pada siapa? Pada si pembunuh? Kutukan, berbagai jenis kutukan: jelas
sudah aku alamtkan kepada si pembunuh yang entah siapa namanya. Kini yang
terasa hanya raas sakit di dada, pedih,
perih, seperti ribuan sembilu yang disayatkan secara paksa ke hulu hatiku.
Mengapa
peristiwa yang sedikit pun tak pernah terbayangkan dalam benakku itu harus
menimpa Elena? Ya, Elena, yang dalam beberapa bulan terakhir ini mampu
membangkitkan gairah hidupku yang nyaris beku di kulkas kesepian. Kini aku
benar-benar merasa sunyi seperti sepangkas bunga bakung yang di buang orang ke
dalam bak sampah yang sesak oleh bangkai tikus, yang dagingnya mulai mencair,
dengan aroma yang khas, yang hanya disukai oleh lalat dan belatung saja, dan
tidak oleh manusia.”
Terlihat
jelas dari kutipan cerpen tersebut, alur cerpen memberi efek terhadap pembaca
dan terhadap cerpen itu sendiri. Bermula dari
kematian Elena, orang yang amat ia sayangi. Di bunuh dengan tidak wajar dan
di perkosa, entah oleh siapa. Hingga kasus pembunuhan tersebut itu belum bisa
diungkap oleh pihak yang berwajib.
Penulis berhasil
membuat pembaca diliputi rasa simpati dan kekecewaan yang mendalam. Kesedihan dan
kemarahan yang tak mampu diungkapkan campur aduk menjadi satu. Dari awal sampai
akhir cerita pergolakkan batin sangat terasa. Ketika ia mengenang masa lalu
yang indah bersama dalam cinta, dan ketika ia harus menghadapi kenyataan yang
begitu menyakitkan, di tinggal oleh orang yang ia sayangi, di bunuh dengan
tidak wajar.
Dan dari alur
tersebut cerpen dapat dikatakan sebagai cerpen liris atau bersifat liris karena
menguras emosional, penuh dengan perasaan.
Dalam cerpen ini hanya terdapat dua
tokoh, yaitu tokoh aku dan Elena. Tokoh aku, yakni sebagai tokoh utama yang senantiasa ada dalam setiap peristiwa di dalam cerita. Tokoh aku adalah seorang penulis dan pemain teater yang
hebat. Lewat teater ia dapat menemukan pertarungan nilai-nilai dengan amat
mengasyikkan, sekaligus menguji keutuhan diri sebagai manusia. Tokoh aku
merupakan tipe orang penyayang, memiliki rasa cinta yang kuat, selalu mengingat
masa lalu, gugup, dan ketika ia mendapatkan suatu cobaan, ia benar-benar rapuh
dan menyendiri.
Kutipannya :
“Kesepakatan kami menjalin
hubungan seintim itu, justru seusai kami sukses memainkan lakon Orang malam
dalam versi ketujuh yang naskahnya memang aku tulis sendiri dengan sutradara
Dominic Naipul, sahabatku dari Paris, Prancis, yang tengah berlibur di negeriku
dengan waktu yang yang cukup lama. Dan Dominic adalah salah seorang sutradara
teater muda usia di negerinya, yang kemampuan dan bakatnya tidak diragukan
lagi. Ia datang ke negeri ini, antara lain igin memperdalam teater tradisional,
entah itu yang ada di Jawa maupun Bali.
”Hanya di dalam teaterlah aku
menemukan pertarungan nilai-nilai dengan amat mengasyikkan. Lewat teaterlah aku
sering menguji keutuhan diriku sebagai manusia,” ujarnya, dalam sebuah
kesempatan. Dan apa yang di ucapkannya itu, tidak hanya di dengar oleh diriku
sendiri, tetapi juga didengar oleh Elena”
“Adzan shubuh
aku dengar begitu nyaring , menyelusup dari celah-celah jendela. Elena
menghilang dari pandangan mataku. Di kamar ini aku benar-benar sendiri, tubuhku
yang lelah, dan jiwaku yang capek; terdampar di atas ranjang yang spreinya
kusut seperti wajahku. Sesekali, dari balik jendela kamarku, aku mendengar pula
langkah orang yang bergegas entah pergi kemana.
waktu
seperti kura-kura
merayap
dalam alir darahku.
antara
yang fana dan yang abadi seberapa detik batasnya?
seberapa
detik batasnya?
dan
kini apa yang tengah
aku
hadapi saat ini
aku
benar-benar sendiri
di
kamar ini,
subuh
sedingin es
dalam
kulkas
sedingin
batu-batu
di
dasar kali
Aku pejamkan mataku. Betapa ingin
sesaat aja aku terbebas dari pengalam buruk yang demikian hitam meninpa
hidupku. Yang terbayang adalah senyumnya, saat elena menghambur ke dadaku,
ketika ia tidak percaya pada kemampuannya dalam menghidupkan peranyang telah
dimainkannya tadi di atas panggung cukup berhasil, memukau banyak orang dalam
lain kesempatan. Begitu erat ia memeluk tubuhku, yang terus terang ketika ia
melakukan hal itu, aku jadi gugup dibuatnya. Ini pelukan pertama di luar pertunjukan
yang aku yakini didasari rasa cinta. Tentu saja getaran pelukan semacam itu
terulang lagi dalam pelukan-pelukan lainnya dalam berbagai kesempatan yang
memungkinkan kami semakin mengenal, tubuh, pikiran dan juga diri kami
masing-masing.”
Elena
sebagai tokoh tambahan dalam cerpen ini. Wajahnya yang cantik semakin
menampilkan daya pesona yang luar biasa. Gaya hidupnya sangat sederhana, tutur
katanya lembut, sebagai pemain teater, kemampuannya dalam menghidupkan peran
yang tengah dimainkannya itu, terbilang hebat dalam bermain teater, padahal ia
baru pertama kali main dalam teater yang minta perhatian khusus dari para
pemainnya untuk mengembangkan karakter para tokohnya setepat mungkin di atas
pentas, ia juga memiliki rasa cinta yang kuat, penyayang, mau mencoba hal yang
baru, tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ada, dan memiliki rasa
percaya diri yang kuat.
Kutipannya :
“Jadi Akang mempercayai saya
untuk memerankan tokoh Dirah dalam sebuah lakon pendek yang Akang tulis tempo
hari? Saya memang suka teater, tapi belum pernah main teater. Kalau Akang
memang percaya kepada saya, bahwa saya mampu menghidupkan peran tersebut, ya,
apa salahnya saya coba?? Tutur Elena dalam sebuah kesempatan, di Sekertariat
Teater Karang Kembang, di jalan Bungur.
Wajahnya yang cantik itu semakin
menampilkan daya pesona yang luar biasa, setelah aku ketahui dengan pasti bahwa
gaya hidupnya sangat sederhana, tutur katanya lembut, selembut usapan tangannya
yang pernah berkemah di balik bajuku”
Sedangkan Kimung dan Dirah termasuk
ke dalam tokoh tambahan yang terdapat dalam unsur drama pada cerpen “Orang
Malam”. Kimung mempunyai watak tokoh yang sering menduga-duga, gengsi, sok
tahu, akan tetapi sering berkomentar pedas
tentang carut marut negeri ini,yang di kaitkan dengan kehidupan yang ia
jalani.
Kutipannya:
KIMUNG:
“Memangnya
aku tertarik padamu?
O,
jangan mimpi.
Ah,
ah, ah. Aku tahu kini., kau pasti wanita kesepian, bukan?
Sudahlah
siapa pu engkau , ada baiknya kau mendekat kemari .
Kau
tidak akam marah bukan , jika aku bertanya padamu, apa yang menyebabkan engkau
malam-malam seperti ini
Datang
ke tempat ini sendirian?
Apakah
suamimu tidak akan mencarimu?
Aku
tahu jawabannya, kau pasti melarikan diri karena suami mu kawin lagi dengan
orang lain?”
KIMUNG :
“Dengarkan
aku bicara.
Negeri
ini telah membuat orang kehilangan akal sehatnya. Tanahku dirampas orang-orang
berhati babi hutan.”
“….kalian
hanya berani menangkap seorang perempuan
yang
tidak menginginkan negaranya hancur berantakan
kerena
para penguasanya tidak lagi memperhatikan nasib rakyatnya sendiri.
Kalian
benar-benar tidak tahu malu. Lihat, para pencuri kelas tinggi, yang selalu
berkata-kata atas nama rakyat itu
Kalian
biarkan begitu saja bebas berkeliaran. O, negeri apakah ini, kecoa dan tikus busuk
hanya dialamatkan pada orang-orang yang berpikiran kritis, yang tidak
menginginkan kelaparan dan kemiskinan terjadi hampir di seluruh pelosok negeri
ini.”
Sedangkan Dirah mempunyai watak
tokoh, yakni seorang yang cukup keras, cuek,
namun mengalami pengalaman yang pahit.
Di
lihat dari segi kualitas tokohnya, cerpen “Orang Malam” termasuk ke dalam tokoh sederhana atau tokoh yang berwatak datar (the simple or flat characters), dimana tokoh yang kurang mewakili personalitas manusia secara
utuh, hanya ditonjolkan satu sisi kehidupan saja.
Penulis
hanya memaparkan bagaimana tokoh aku yang hidup di dunia teater dengan keahlian
yang ia miliki dan bagaimana akhir kisah cintanya dengan Elena. Sehingga memang kurang mewakili personalitas manusia secara utuh, karena hanya
menonjolkan dari satu sisi kehidupan saja.
Kutipannya:
”Hanya
di dalam teaterlah aku menemukan pertarungan nilai-nilai dengan amat
mengasyikkan. Lewat teaterlah aku sering menguji keutuhan diriku sebagai
manusia,” ujarnya, dalam sebuah kesempatan.”
“Kalau
hidup yang kita jalani ini memang seperti dongeng, lantas peran semacam apakah
yang tengah kita mainkan selama ini? Kalau kehidupan ini adalah sebuah panggung
teater yang besar, lantas lakon semacam apakah yang tengah Dia tulis untuk kita
saat ini? aku sangat tidak mengharap bahwa cinta kita hanya kekal dalam lipatan
kenangan,” ujarnya pada suatu hari, yang diucapkannya di kamar ini.
Waktu
seperti kura-kura
Merayap
dalam alir darahku
Antara
yang fana dan yang abadi
Seberapa detik
batasnya?
“Elena,
mengapa maut memisahkan kita?”
Dari
segi peran dalam pengembangan plot, tokoh dalam cerpen ini merupakan tokoh protagonis karena menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan kita, harapan-harapan kita
sebagai pembaca.
Kutipannya :
“Pihak
yang berwajib menduga, sebelum dibunuh, ia diperkosa terlebih dahulu. Adapun
tentang ada batok kepalanya yang retak, tempurung payudara yang rusak berat,
dan vaginanya yang robek diperkosa oleh orang biadab intu, benar-benar membuat aku
terpukul, membenihkan rasa marah yang berkobar-kobar dalam dadaku.
Marah?
Marah pada siapa? Pada si pembunuh? Kutukan, berbagai jenis kutukan: jelas
sudah aku alamatkan kepada si pembunuh yang entah siapa namanya. Kini yang
terasa hanya rasa sakit di dada, pedih, perih, seperti ribuan sembilu yang
disayatkan secara paksa ke hulu hatiku.
Kutipan
di atas mengambarkan bahwa ia berusaha kuat dalam menghadapi segala cobaan, ia juga
berhasil menahan amarahnya. Hal tersebut sesuai dengan pandangan kita sebagai
pembaca, dan apabila kita diposisikan menjadi tokoh aku, kehilangan orang yang amat kita sayangi,
terutama dengan cara tidak wajar, kita akan menyerahkan segala sesuatunya
kepada pihak berwajib. Walaupun kasusnya belum bisa terungkap, kita harus tetap
berikhtiar. Memang tidak dapat di pungkiri rasa terpukul dan marah membenih
dalam dada. Namun kita harus berpikir secara dingin, sesakit apapun itu jangan
melakukan hal yang konyol untuk mengakhiri hidup dengn cara bunuh diri. Oleh
karena itu, tokoh aku merupakan tokoh protagonis.
Berdasarkan kriteria berkembang atau tidaknya perwatakan
tokoh,
tokoh dalam cerpen ini merupakan tokoh berkembang dimana tokoh cerita yang mengalami
perubahan/perkembangan peristiwa dan plot yang dikisahkan.
Kutipan (sebelum
adanya cobaan yang menimpa tokoh aku) :
“…kami
sukses memainkan lakon Orang malam dalam versi ketujuh yang naskahnya memang
aku tulis sendiri dengan sutradara Dominic Naipul, sahabatku dari Paris,
Prancis, yang tengah berlibur di negeriku dengan waktu yang yang cukup lama..”
”Hanya di dalam
teaterlah aku menemukan pertarungan nilai-nilai dengan amat mengasyikkan. Lewat
teaterlah aku sering menguji keutuhan diriku sebagai manusia,” ujarnya, dalam
sebuah kesempatan.”
Kutipan (setelah
adanya cobaan yang menimpa tokoh aku) :
“Mengapa peristiwa yang sedikit
pun tak pernah terbayangkan dalam benakku itu harus menimpa Elena? Ya, Elena
yang dalam beberapa bulan terakhir mampu membangkitkan gairah hidupku yang
nyaris beku di kulkas kesepian. Kini aku benar-benar merasa sunyi seperti
sepangkas bunga bakung yang di buang orang ke dalam bak sampah yang sesak oleh
bangkai tikus, yang dagingnya mulai mencair, dengan aroma yang khas, yang hanya
disukai oleh lalat dan belatung saja, dan tidak oleh manusia.”
Waktu
seperti kura-kura
Merayap
dalam alir darahku
Anatara
yang fana dan yang abadi
Seberapa detik
batasnya?
“Elena,
mengapa maut memisahkan kita?”
Kita
bisa melihat perubahan/perwatakan watak tokoh aku. Baik sebelum maupun setelah
cobaan menimpanya. Tokoh aku hidup di dunia teater. Ia begitu semangat dalam
berkarya, baik menulis naskah maupun memainkan lakon dalam teater, hidupnya
penuh dengan rasa cinta. Namun ketika ia kehilangan Elena, oarang yang ia
sayangi, gairah hidupnya nyaris beku, di rundung duka dan gemar menyendiri.
Kemudian
dalam metode penyajian watak, cerpen “Orang Malam” menggunakan metode dramatik. Metode dramatik adalah metode penokohan yang dipergunakan pencerita dengan membiarkan para
tokohnya untuk menyatakan diri mereka sendiri lewat kata-kata, dan perbuatan
mereka sendiri, misalnya lewat dialog, jalan pikiran tokoh, perasaan tokoh,
perbuatan, sikap tokoh, lukisan fisik, dan sebagainya.
Kutipan (melalui
lukisan fisik) :
“Wajahnya
yang cantik itu semakin menampilkan daya pesona yang luar biasa, setelah aku
ketahui dengan pasti bahwa gaya hidupnya sangat sederhana, tutur katanya
lembut, selembut usapan tangannya yang pernah berkemah di balik bajuku”
Kutipan (melalui
perasaan tokoh) :
“…benar-benar
membuat aku terpukul, membenihkan rasa marah yang berkobar-kobar dalam dadaku.
Marah?
Marah pada siapa? Pada si pembunuh? Kutukan, berbagai jenis kutukan: jelas
sudah aku alamtkan kepada si pembunuh yang entah siapa namanya. Kini yang
terasa hanya raas sakit di dada, pedih,
perih, seperti ribuan sembilu yang disayatkan secara paksa ke hulu hatiku”
Kutipan
(lewat dialog) :
KIMUNG:
Suara, suara itu-seperti langkah kaki
menginjak guguran dedaunan.
Jika engkau yag datang
Aku sambut dengan mautku
yang cempaka.
DIRAH:
Tidakkah kau bosan berkata demikian?
Betapa sering aku mendengar kau berkata
seperti itu-seakan-akan
tidak ada lagi sesuatu yang pantas kau
kerjakan? Alangkah cengengnya engkau seperti orng baru putus cinta?
Terdapat tiga
kategori latar dalam cerpen “Orang Malam”.
1.
Latar
tempat, diantaranya : kamar, kamar kontrakan, di Jalan Soka, Sekretariat Teater
Karang Kembang, di Jalan Bungur, taman,
panggung pertunjukan teater, pusat kebudayaan asing, di Jakarta.
2.
Latar
waktu, diantaranya : malam, pukul 01.33 WIB, sore, ratusan tahun, suatu hari
3.
Latar
suasana : hujan, kemarau, gerimis, ramai, sunyi, sepi, gugup, kaget,marah,
terpukul, hening
“Malam sedingin
batu-batu di dasar kali. Hujan yang turun sejak pagi, baru saja reda. Dari
balik kaca jendela, bayang-bayang kelam terhampar seluas mata memandang. Tak
ada siapa-siapa di situ, selain warna pepohonan yang hitam pekat. Sesekali
bergerak dimainkan angin yang berhembus dengan amat kencangnya. Saat, kantuk
belum juga datang menyergap diriku, padahal jam dinding sudah menunjuk pukul
01.33 WIB. Di kamar ini aku benar-benar sendiri, terkucil dari dunia ramai.”
Mengenai tema yang terkandung dalam
cerpen “Orang Malam”, sebelumnya Nashrudin Hoja pernah berseloroh, “Sebenarnya
bulan lebih dibutuhkan, untuk menerangi malam yang gelap. Sedang matahari tak
dibutuhkan, karena siang sudah terang.” Ini seloroh yang bisa jadi menggelikan,
terutama bila dalam pikiran kita ada keyakinan bahwa terangnya siang disebabkan
oleh kehadiran matahari; tanpa matahari siang sama gelapnya dengan malam. Bila
pernyataan ini benar, bahwa “Tanpa adanya matahari, siang sama gelapnya dengan
malam,” kita dapat menyatakan bahwa malam atau kegelapan merupakan hal terdasar
dalam kehidupan ini. Dua puluh empat jam adalah malam, baru menjadi siang
ketika matahari hadir memberikan sinar dan menyulap malam menjadi terang
benderang, menjadi siang.
Benarkah dasar dari kehidupan ini
adalah kegelapan? Bisa jadi iya, terutama bila kita mengaitkannya dengan
situasi ruang publik yang kita alami. Dan Soni sebagai penulis memang mengajak
kita untuk memaknai situasi carut marut negeri ini dengan satu kata: (penuh)
kegelapan dalam cerpen “Orang Malam”
Kutipannya
:
“Kalian hanya berani
menangkap seorang perempuan
yang tidak menginginkan negaranya
hancur berantakan
kerena para penguasanya
tidak lagi memperhatikan
nasib rakyatnya sendiri.
Kalian benar-benar tidak tahu malu.
Lihat, para pencuri kelas tinggi,
yang selalu berkata-kata atas nama
rakyat itu
kalian biarkan begitu saja bebas
berkeliaran.
O, negeri apakah ini, kecoa dan tikus
busuk
hanya dialamatkan pada orang-orang
yang berpikiran kritis,
yang tidak menginginkan kelaparan
dan kemiskinan terjadi hampr
di seluruh pelosok negeri ini”
Penulis memang tidak sedang
membicarakan kegelapan sebagai sesuatu yang abstrak. Ia membicarakan kenyataan
kehidupan negeri ini yang penuh kegelapan. Pilihan untuk mengusung metafora
kegelapan ini membuat penulis memilih beberapa peristiwa politik sebagai latar
belakang (tema) cerpennya. Ia menawarkan sisi lain dari beberapa peristiwa
politik yang cukup jarang disadari orang banyak.
Selain
tema politik, tema percintaan antara tokoh aku dan Elena begitu terasa.
Kutipannya
:
“Kang”, katanya saat itu, dengan mata
terpejam, seakan menolak cahaya, ketika kedua tanganku mendekap erat tubuhnya
yang terbakar oleh gairah cinta yang demikian dahsyat melanda ruhnya. Dan apa
yang dikatakannya itu terngiang lagi dalam penengaranku, padahal kalimat
tersebut diucapkannya setahun lalu. Sejak itulah, hubunganku dengan Elena kian
akrab, hingga pada suatu hari, di sebuah tempat yang tanggal, hari, dan
bulannya aku sudah lupa, kami sepakat bahwa hubungan yang kami jalin ini
memuncak di jenjang perkawinan, membangun sebuah dunia yang lain lagi dari apa
yang selam ini kami bangun di atas pentas.”
Cerpen
“Orang Malam” termasuk ke dalam tipe cerpen kemanusiaan dengan di bumbui cerita
percintaan.
Kutipannya
:
KIMUNG dan DIRAH :
(keduanya salng mendekat lalu berpelukan)
“Kita
sama-sama tau dan besar dalam penjara .
Kita
lahir sebagai dongengan.
O,maut
yang bengis jarring kelam apa lagikah yang kelak kau jeratkan
Pada
tubuh tua ini.
Adakah
kelak setangkai mawar bermekaran di tubuh kami?
“….
Itulah kali pertama kami berpelukan, begitu erat, seakan tidak mau saling
melepaskan.”
Nilai
sastra begitu melekat dalam struktur cerpen “Orang Malam”. Kita dapat menemukan
dunia realis dan surealis berbaur mengungkap cinta, kemanusiaan, kritik sosial,
politik, hingga kritik terhadap karya sastra dan budaya. Semua itu diungkapkan
dengan kekuatan bahasa penyair yang ritmis dan liris.
Kutipannya
:
waktu seperti kura-kura
merayap dalam alir darahku.
antara yang fana dan yang abadi seberapa
detik batasnya?
seberapa detik batasnya?
dan kini apa yang tengah
aku hadapi saat ini
aku benar-benar sendiri
di kamar ini,
subuh sedingin es
dalam kulkas
sedingin batu-batu
di
dasar kali
“Elena, mengapa maut memisahkan kita?”
Kemudian,
penulis mengolah sekaligus memadukan unsur-unsur cerita pendek dengan
unsur-unsur naskah drama pendeknya.
Kutipannya
:
KIMUNG:
(Terkejut.
Sesaat ia tatap wanita yang kini berdiri di hadapannya itu. Ia tak habis
mengerti mengapa dalam malamsekelam ini ada seorang wanita berani-beraninya
datang ke tempat ini)
Kamu siapa?
Rasanya baru
kali ini aku didatangi
oleh seorang
wanita.
Biasanya pada
malam-malam seperti ini
hanya bangku-bangku
taman yang bisu
yang menemaniku
dengan seluruh
kesepian dan
kesunyian alam raya.
DIRAH:
Aku bukan
siapa-siapa.
Boleh jadi aku
pikiran buruk yang datang
Dari dasar
kegelapan.
Boleh jadi
pula-aku bukan siapa-siapa
Bagi dirimu.
Selain
itu, terdapat nilai–nilai kemanusiaan dalam cerpen “Orang Malam” yang disajikan
dengan amat memikat dengan gaya penceritaan yang amat sederhana. Soni menulis, “
Tapi kami ingin jiwa kami tidak hangus oleh sebuah pengalaman buruk.”
Pada
saat ruang publik mendesak terangnya kemanusiaan, kita tentu akan mencari jalan
keluar. Berdiam saja di tengah desakan mematikan adalah hal yang konyol. Luapan
membutuhkan kanal, begitu pun kerinduan akan cahaya membutuhkan celah walaupun
hanya sedikit. Persis seperti biji kacang hijau yang disimpan di atas kapas
basah, di dalam tabung, dan diletakakan di dalam kamar gelap; biji itu akan
menghandirkan batang tauge yang menjalar memburu cahaya. Cahaya yang
diburu batang tauge itu mungkin hanya selarik dan sesekali masuk ke
dalam kamar, itu sudah cukup untuk
memberi alasan bahwa hidup harus diteruskan. Simpulannya ialah bahwa hidup di
tengah kegelapan bisa diteruskan bila masih ada harapan bahwa cahaya tetap ada,
atau bila kita punya keyakinan bahwa kegelapan itu dapat dilawan dengan cahaya
buatan sendiri. Bukankah pada saat malam tiba, kita sudah sedemikian cerdas
menghadapinya dengan memasang lampu atau sedia senter sebelum terkantuk?
Inilah kehebatan manusia. Ketika
alam hanya menyajikan kegelapan, manusia tak pasrah menyerah: ia menciptakan
pelits. Ketika ruang publik tak menjanjikan kebebasan kemanusiaan, manusia
mencari dengan caranya yang khas. Situasi pencarian cahaya kebebasan ini dapat
di temukan pada banyak cerpen Soni. Pada
cerpen “Orang Malam,” seorang pemuda diceritakan memiliki hobi mencari hiburan
di kesunyian. Ini aneh, “Ya, hanya manusia anehlah di zaman yang serba cepat
berubah ini yang menyukai tempat-tempat yang demikian !” kebiasaan ini
barangkali bisa merujuk pada seorang darwis yang melarikan diri dari
kenyataan duniawi, yang mencari kebahagiaan dengan cara tak lazim.
Sebagai fungsi rekreatif cerpen
“Orang Malam” menyediakan, menawarkan, menyuguhkan, dan menghidangkan
hiburan-hiburan secara batiniah dan sukmawi kepada pengapresiasi dapat
berbentuk keindahan, keelokan/estetis sastra, kehumoran, kelucuan, kekonyolan,
kekontrasan, keintensifan, kekhususan, atau sindiran.
Kutipan 1 :
“Kalian hanya berani
menangkap seorang perempuan
yang tidak menginginkan negaranya
hancur berantakan
kerena para penguasanya
tidak lagi memperhatikan
nasib rakyatnya sendiri.
Kalian benar-benar tidak tahu malu.
Lihat, para pencuri kelas tinggi,
yang selalu berkata-kata atas nama
rakyat itu
kalian biarkan begitu saja bebas
berkeliaran.
O, negeri apakah ini, kecoa dan tikus
busuk
hanya dialamatkan pada orang-orang
yang berpikiran kritis,
yang tidak menginginkan kelaparan
dan kemiskinan terjadi hampr
di seluruh pelosok negeri ini”
Kutipan 2 :
“waktu seperti endapan candu
lolong anjing terdengar nyaring
seperti kesedihan yang menyeruak dari
kedalaman hatiku.
antara yang fana dan
yang abadi
seberapa detik
batasnya?”
Kutipan
1 cerpen di atas menghidangkan hiburan batiniah kepada pengapresiasi berbentuk
sindiran terhadap situasi carut marut negeri ini. Sedangkan kutipan ke-2
menghidangkan hiburan batiniah kepada pengapresiasi berbentuk keindahan,
keelokan/estetis sastra dalam kepenulisannya.
Dalam
cerpen “Orang Malam” terdapat pengalaman humanistik, yakni pengalaman
yang berisi dan bermuatan nilai-nilai kemanusiaan, menjungjung harkat, dan
martabat manusia, menggambarkan situasi dan kondisi kemanusiaan (kondisi
tragis, dramatis, sinis, ironis, humoristis, riang, murung, dan penasaran)
Kutipannya :
“Elena
di bunuh entah oleh siapa. Batok kepalanya retak sudah di pukul oleh beda
tumpul, entah oleh batu entah oleh palu. Tempurung payudaranya rusak berat,
penuh dengan sayatan kecil, semacam jejak silet yang tajam menurih daging sapi
yang segar, yang darinya keluar cairan semacam darah. Pihak yang berwajib
menduga, sebelum dibunuh, ia diperkosa terlebih dahulu. Adapun tentang ada
batok kepalanya yang retak, tempurung payudara yang rusak berat, dan vaginanya
yang robek diperkosa oleh orang biadab intu, benar-benar membuat aku terpukul,
membenihkan rasa marah yang berkobar-kobar dalam dadaku.”

0 komentar:
Posting Komentar